Showing posts with label khayalan iseng. Show all posts
Showing posts with label khayalan iseng. Show all posts

Monday, January 18, 2010

Misteri Tas Busuk, Lanjutan 4

Kumasukkan kembali pistol kedalam bungkus tas kain untuk kemudian kuselusupkan sekenanya ke dalam tas dekil berbahan kulit sintetis itu.

Aku bersiap-siap untuk kembali bekerja untuk memecahkan sandi alinea ke-2

“Ok, seberapa hebat sih kau…”, gumamku lirih sambil seadanya mengambil sebuah kertas buram dari antara banyak kertas buram yang berserakan di lantai kamarku. Sebenarnya gumamanku ini lebih tepat seperti umpatan atas misteri yang masih membungkus alinea ke-2.

Walaupun kertas buram tadi kuambil seadanya, tetap kupilih yang masih belum begitu penuh dengan corat-coretku sebelumnya.

Aku mulai mengatur posisiku. Posisi paling favorit saat berpikir keras telah kupasang. Aku telah duduk jongkok menghadap kertas buram dan tas dekil itu. Kuambil pensil yang tergeletak sedari tadi di lantai kamar. Pensil itu sudah sangat tumpul, tapi masih bisa untuk dituliskan diatas kertas. Aku kembali mencorat coret.

Entah sudah berapa lama waktu lagi yang kuhabiskan. Sudah banyak coretan lagi yang kubuat diatas kertas itu, ketika aku memutuskan untuk menggali sesuatu hal yang baru.

“Jangan-jangan ini bukan permainan kata-kata. Jangan-jangan maksud M agar aku mengumpulkan benda-benda yang dituliskannya ini dalam wujud nyatanya….Ahaaa…… mungkin sekali…! Bodohnya aku!!”, benakku memaki diriku sendiri.

Tanpa menunggu lama, aku langsung bangkit berdiri. Membuka pintu kamar tidurku dengan sedikit tergopoh-gopoh.

Membawa secarik kertas buram dan membiarkan pintu tetap terbuka, segera menuju kamar si Mak.

“Mak…Mak….Makkkkkk”, aku setengah berteriak dan terus menuju kamar si Mak.

Belum sampai aku gedor kamarnya, si Mak telah membuka kamar dengan wajah bingung dan rambut sedikit acak-acakan.

Sebuah buku tebal yang usang berbahasa Belanda masih dipegangnya, pertanda dia tengah asyik membaca saat aku berteriak memanggil namanya.

“Ada apa sih Ten…”, tanya si Mak dengan raut wajah yang masih kebingungan. Tapi tidak lama, wajahnya segera menerbitkan wajah keibuan yang penuh kebijaksanaan dan bibirnya melempar senyum hangat kepadaku.

“Wahhh…Ten, pasti udah terpecahkan ya? Hebat, boleh dong bagi-bagi pesan rahasia M ke Mak?”

“Mak, belum Mak…belummmm. Tapi dengan bantuan Mak, aku punya feeling, ini pasti terpecahkan. Sini Mak..sini,” aku mengandeng tangan si Mak menuju dapur .

Sambil terus menggandeng, aku bicara nyerocos.

“Jadi Mak… dalam pesan M, ada satu alinea yang masih misteri, artinya aku belum bisa pecahkan. Aku udah coba semua cara, tapi belum berhasil memecahkannya. Alinea ini sangat sederhana. Menurutku sangat sederhana. Sehingga dalam kesederhanaannya inilah pesan ini terkunci sempurna. Mak, bantu Ten ya…bantu Mak….”.

“Heiii…tenangggg Ten…..jangan cepat-cepat jalannya…. Hehehe, Mak sudah tua nihhh…..”, kata si Mak sambil tergelak, namun terus mengikuti panduanku ke dapur.

Dapur kami ini sangatlah sederhana. Berukuran 3x4 m2, dengan ketinggian atap yang lebih tinggi dari bangunan utama.
Sebenarnya dapur ini bukan bangunan yang sejak awal dipersiapkan untuk dapur. Ini bangunan tambahan. M yang membuatnya ketika usiaku sekitar 10 atau 11 tahun. Dalam membangun dapur ini, M dibantu oleh seorang pria muda bertubuh tegap, berambut cepak, berwajah kotak dan keras layaknya batu. Kami menyebutnya dengan Mas Jepang, walau wajah dan kulitnya sama sekali tidak mirip dengan orang Jepang.

Sebutan itu bermula dari si Mak, oleh karena tiap pagi ketika datang untuk membantu M membangun dapur dan tiap kali pamit pulang ketika jam menunjukkan tepat jam 3 sore, ia selalu memberi hormat ala Jepang kepada si Mak. Hormat dengan membungkuk yang dalam tanpa kata-kata. Mas Jepang seingatku, hampir tidak pernah mengeluarkan suara. Irit bicara, namun bekerja sangat cekatan.

M menyempatkan membangun dapur ini tiap kali ia datang untuk melatihku. Jadi pembuatannya dilakukan secara bertahap. Tapi M dan Mas Jepang membangunnya dengan sangat cepat, kurang dari 10 kali kunjungan.

Yang membuat aku gembira dalam proses pembuatannya adalah, waktuku berlatih menjadi berkurang karena M menghabiskan separuh kunjungannya untuk mendirikan bangunan tambahan ini. Ketika M membangun dapur, aku bermain-main disekitar mereka sembari terus mengobrol dan bercanda dengan M. Sungguh menyenangkan.

Dapur kami dinding bawahnya terbuat dari bata, sedangkan separuh dinding atasnya terbuat dari papan keras. Tidak ada eternit. Atapnya terbuat dari nipah. Ringan dan membuat kesan sangat teduh pada ruangan tatkala siang hari.

Ornamen pada dapur ini sangat bercirikan dari daerah tertentu. Pada awal dapur ini selesai dibangun, aku rada seram berlama-lama sendirian di dapur ketika malam hari. Seperti ada sesuatu yang menakutkan yang terdapat dalam ornamen itu. Si Mak kemudian menjelaskan, bahwa M membuat dapur yang berornamen daerah Batak.

“Ten…ini diberi hiasan Gorga dari daerah Batak…”, demikian penjelasan si Mak. Aku tidak memberi perhatian atas penjelasan panjang lebarnya kala itu. Entah bagian mana yang disebut Gorga dan apa maknanya pada saat itu aku tidak begitu paham.
(Makna Gorga aku dapatkan belakangan saat aku menjadi sangat dewasa, kemudian hari)

Dan kami sudah berada di dapur.

“Ok, mau apa kita disini?”, tanya si Mak lembut.

“Gini Mak….aku mau Mak menyiapkan beberapa bahan yang ada di dapur kita ini. Cabe, ebi, nenas dan garam….”, sahutku cepat dengan antusias.

Sambil sigap mengumpulkan bahan yang kusebut tadi dengan membuka laci dapur pada bagian atas dan berpindah pada bagian bawah, si Mak berujar, “Kalau cabe, ebi dan garam ada Ten…. Tapi kalo nenas, Mak mana ada, tidak punyalah…!”

“Ya, aku juga sudah menduga Mak, tapi tidak apa, yang ada saja dulu…”, tukasku cepat dan memperhatikan dengan seksama bahan-bahan yang telah disiapkan si Mak diatas meja kompor yang ada persis didepan kami.

Aku membungkuk dan membolak-balik bahan-bahan itu. Cabe diambilkan oleh si Mak beberapa buah. Cabe Merah dan cabe rawit. Masing-masing empat buah. Ebi segenggam penuh diletakkan dalam piring lepek kecil. Dan garam masih didalam toples garam yang somplak pada gelas penutupnya. Toples garam kami memang demikian.

Aku membungkuk memegang kedua dengkulku dengan telapak tangan dan terus memperhatikan bahan-bahan itu. Mataku mencorong lekat dan tajam melihat bahan-bahan tadi.

Aku mendesah panjang berkali-kali karena tetap tidak mempunyai jawaban atas misteri alinea ke-2.

Entah berapa lama aku membungkuk, kemudian aku berdiri sambil mendekap tanganku sendiri di dada. Mataku tidak beralih sedikitpun dari bahan-bahan itu.

“Apa yang kau pikir Ten..”, tanya si Mak lirih seolah-olah tidak ingin membuyarkan konsentrasiku. Mata si Mak sibuk beralih dari tulisan di kertas buram, kemudian ke wajahku dan kepada bahan-bahan dapur itu.

“Hmmmmm….”, begitu saja jawabku tidak jelas. Mataku masih menatap bahan-bahan itu sambil masih dalam posisi berdiri yang sama.

“Apa ya kira-kira…..”, intonasi si Mak masih sama.

“Sayang tidak ada nenasnya..”, sahutku sekenanya.

“Kalau ada nenas, kenapa Ten, apa yang kau pikir?”, lanjut si Mak.

“Hmmmmm…”, sahutku tidak jelas.

“Kalau ada nenas kenapaaaa??”, tanya si Mak mulai tinggi karena dirundung penasaran, yang membuat wajahku berpaling kepada si Mak.

“Hahahahaha…aku juga belum tau Mak…Mak…. Aku kan cuma asal bicara. Kan memang tidak ada nenasnya….”, aku menjawab dengan tawa yang berderai. Namun tawa itu tidak mampu memecahkan suasana tegang yang telah terjadi sejak pagi tadi.

Aku membereskan ketiga bahan tadi. Cabe merah dan rawit tadi aku gabung kedalam piring lepek kecil itu. Toples garam kucengkeram pakai tangan kanan pada leher toples sementara piring lepek kecil sudah kupegang pada tangan kiriku.

“Ayo Mak kita duduk saja di ruang makan yuk…,”ajak ku sambil diikuti langsung oleh si Mak tanpa menjawab.

Sesampainya di meja makan, aku menarik kursi kayu dan menerbitkan suara gesekan kaki kursi ke lantai. Si Mak juga mengambil kursinya, namun dengan tidak menerbitkan suara apapun.

Nah, sekarang kami tengah menatap bahan-bahan itu sambil duduk di kursi makan. Ya, kami terdiam lama sembari memperhatikan bahan-bahan itu.

“Sayang ya tidak ada nenasnya”, gumam si Mak sambil memperhatikan aku. Wajahnya dibuat serius menirukan mimik wajah dan intonasi suaraku. Aku tau si Mak hanya ingin membuat lelucon dengan membuat nada suara persis suaraku tadi.

“Hehehehehe…..iya Mak”, aku tertawa garing karena terpaksa.

Kami terdiam lagi.

“Begini deh Ten…. Biar lebih mantap lagi, Mak coba akan cari nenas deh. Biar lebih tergambarkan dengan sempurna Ten. Siapa tau dengan begitu, otakmu kembali tokcer”, suara si Mak memecah keheningan.

Si Mak berdiri dan mendorong kursinya begitu saja sehingga menerbitkan suara khas kursi makan jika mengenai lantai dengan kasar.

“Mak, ambil uang dulu terus coba cari-cari di pasar di kampung sebelah. Berdoalah kamu Ten, masih ada tukang buah yang berjualan jam segini”, si Mak berlalu menuju kamarnya meninggalkan aku tercenung dan berpikir keras.

Aku masih berpikir keras ketika si Mak telah rapi dan bersiap-siap mencari nenas. Entah beberapa saat berlalu, tiba-tiba aku berteriak memangil si Mak.

“Makkkkkk………………….Makkkkkkkkkkk…………….. Tidak perlu pergi. Aku rasa kita sudah menemukan jawabannya”.

Aku mengejar si Mak ke pintu depan dan menemukan si Mak telah datang kembali dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa Ten… Sudah kamu pecahkan? Masa? Apa maksudnya Ten….”, tanya si Mak dengan girang sekali.

“Iya Mak…berkat Mak.. Mak memang jenius!!”, jawabku tak kalah girang.

“Alinea ke-2 adalah sebuah alamat. Itu adalah alamat Mak….Yihaaaaaa…. Mak ku memang pintarrrr…Mak tidak perlu mencari nenas lagi”.

Sunday, January 3, 2010

Misteri Tas Busuk, Lanjutan 3

Pukul 13.32.

“Alinea ke-2 ini bukan anagram…bukan anagram….bukan seperti alinea ke-1…”, gumamku berkali-kali.

Aku menuliskan kembali alinea ke-2 dari pesan misterius M di kertas buram yang baru. Untuk puluhan kali sudah.

"Cabe, Ebi, Nenas, Garam. BARU, 5".

“Akhhh…. Ini hanya kata-kata sederhana. Harusnya mudah… setan.. SETANNNNN!”, teriakku sambil meninju lantai.

Aku berdiri. Meluruskan badan sejenak, memutar-mutar pinggang. Tidak kembali duduk di lantai, namun berjalan hilir mudik di sepanjang sisi tempat tidur. Sambil hilir mudik, aku terus menerus menggumam-gumamkan kata-kata kemungkinan pemecahan sandi alinea ke-2 ini. Pada saat itu kamarku diketuk oleh si Mak.

“Tokk-tokk…..tokk-tokk…..tokk-tokk”.

Si Mak selalu mengetuk enam kali ketukan dengan khas. Dua ketukan berjeda pendek masing-masing dilakukan sebanyak tiga kali. Tiap dua ketukan pendek itu akan diberi jeda yang sedikit lebih panjang sebelum diikuti dengan ketukan berikutnya.
Tampaknya antara si Mak dan M tanpa koordinasi lebih dulu telah sepakat untuk membedakan ketukan pintu mereka. Sementara ketukan pintu M selalu berbunyi, “Tokk-tokk-tokk…..TOK!”. Hanya empat ketukan. Tiga ketukan berjeda pendek kemudian diikuti sekali ketukan yang diberi jeda agak panjang dan keras dari ketukan sebelumnya.

“Ten…udah lewat nih jam makan sianggg…. Mak udah siapin dari tadi tuhh makan siangmu….”, lembut suara Mak terdengar dari balik pintu, seolah dia sedang bersandar di pintu dan memperlakukan pintu itu seperti diriku yang sangat disayangnya.

“Sebentar ya Mak…”

“Ten..sepuluh menit lagi kalau kamu tidak keluar makan siang, semua makan siang akan Mak buang. Dan kamu harus masak sendiri untuk makan kita hari ini!”, balas si Mak dengan lugas dan tegas.

Itu adalah tekanan khas suara si Mak jika ingin memenangkan pembicaraan dengan segera karena yakin benar dalam argumentasi. Bahkan seorang M pun akan mulai keder jika mendengar si Mak mengeluarkan tekanan suara yang demikian.

“Ya deh Makkkk…..”, aku segera membuka pintu dan keluar dari kamarku sembari menebar senyum manisku kepada si Mak dan merangkul pinggangnya.

“Hmmm…Ten…baumu sudah seperti masakan basi…Asemmmm….! Setelah makan, kamu mandi dululah…biar segar”, tegur si Mak sambil mengiringi langkah kakiku keluar kamar menuju meja makan.

Meja makan kami terbuat dari kayu, bukan kayu jati, tapi terlihat sangat kokoh dan tua. Bentuknya bundar berdiameter 1.5 meter dan diplitur sederhana. Warnanya coklat tua dan walau sudah berumur, tidak terlihat dekil. Hanya terlihat antik namun terawat. Permukaan mejanya saja yang terlihat sedikit kusam dari bagian meja yang lainnya karena gesekan piring-piring dan perlengkapan makan lainnya.

Ada tiga kursi yang terbuat dari kayu jati muda mendampingi meja bundar. Kursinya juga sederhana. Nampak kursi dan meja ini dibeli terpisah dan kursi ini jelas bukanlah pasangan dari meja bundar. Dan karena bukan pasangannya, kursi ini bukanlah tempat yang nyaman untuk diduduki bersama dengan meja bundar untuk makan. Terasa lebih tinggi dan harus sedikit membungkukkan badan jika ingin menyuapkan makanan ke mulut. Sama sekali tidak nyaman. Walaupun tidak nyaman, namun tidak seorangpun dari kami merasa harus berkomentar. Sejak dulu demikian.

“Ya Mak…”, aku menukas cepat karena ingin segera menyudahi pembicaraan dengan si Mak.

Otakku masih saja bekerja dengan alinea ke-2. Tampaknya si Mak paham betul dengan kondisiku. Setelah mengantarku ke meja makan dan memastikan semua lauk-pauk telah lengkap, si Mak menyingkir kedalam kamarnya.

Sebelum menutup pintu dia berujar, "Habisin nasi yang Mak tuang ya....".

"Ya Mak..."

Otakku terus bekerja. Tanpa memperhatikan masakan apa yang terhidang, aku segera menyuap apa saja yang disiapkan si Mak dipiringku. Mengunyahnya secepat otakku yang tengah bekerja.

“Alinea ke-2 ini begitu sederhana. Kenapa jadi begitu sulit?”, begitulah aku terus bertanya dalam hatiku sambil terus memikirkan kemungkinan pemecahan sandinya.

"Cabe, Ebi, Nenas, Garam. BARU, 5".

Alinea ke-2 inilah kuncinya. Sementara alinea ke-1 telah terpecahkan, aku tidak perlu bersusah payah untuk memecahkan alinea ke-3. Kata-kata dalam alinea ke-3 sudah diluar kepala sejak aku berumur sebelas tahun.

Alinea ke-3. “Deercod, W”

Deercod adalah anagram. Deercod adalah Code Red. Maknanya adalah situasi gawat sehingga upaya apapun akan disahkan untuk mengatasi situasi itu. Apapun boleh.

“Hajar kalau perlu, bakar kalau perlu, bunuh kalau perlu, apapun kalau perlu…”, ujar M datar sambil menatapku tajam, saat itu.

“Itulah Deercod, Tennn….”, jelas M, saat aku bertanya maknanya.

“Apa M?? Bunuh??”

“Ya!”, tegas dan singkat.

“Ingat baik-baik…. Deercod itu, APAPUN KALAU PERLU”, sekali lagi M memberi penekanan dengan kalimat yang lamban dan tegas.

Sedangkan huruf W dalam alinea ke-3 adalah signatur M.
Huruf W adalah huruf M yang dibalik. Nyatalah memang surat itu adalah dari M. Signatur itu sendiri adalah ciptaanku sejak aku usia empat tahun. Pada saat aku telah mengerti seluruh abjad, demikian cerita si Mak, aku selalu menuliskan banyak huruf W.

Dan ketika si Mak dan M bertanya kenapa aku banyak menulis huruf W, aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya membalikkan kertas atau buku tulis yang telah kutuliskan banyak huruf W tadi, sembari menunjuk kearah M. Tingkahku itu selalu membuat M tertawa lepas dan terlihat bangga.

Sejak itu, M akan memberikan signatur W tiap kali ia menulis apapun kepadaku. Hanya kepadaku saja, tidak kepada yang lain. Bahkan tidak juga kepada si Mak.

Suapan terakhir dari makan siangku masih kukunyah ketika aku langsung beranjak ke dapur dengan membawa piring dan gelas kotorku untuk dicuci.

Menjadi kebiasaan kami setelah makan untuk mencuci masing-masing piring kotor. Biasanya jika kami tengah berkumpul bertiga, maka yang mendapat kesempatan mencuci pertama adalah M, kemudian aku dan terakhir adalah si Mak. Si Mak terakhir mencuci karena yang dicucinya bukan hanya piring dan gelas kotornya sendiri namun peralatan lain yang perlu dicuci dan dibersihkan. Pada saat mencuci piring itupun kami sempatkan untuk sekedar bercanda ria atau meneruskan diskusi yang belum selesai sejak di meja makan.

Setelah membersihkan meja makan dan merapikannya kembali, aku kembali ke kamarku.
Aku harus meneruskan pekerjaanku untuk memecahkan sandi ini. Waktuku tidak banyak lagi.

Pukul 13.57

Kali ini aku tidak langsung bekerja. Aku duduk bersila dengan bersender di sisi tempat tidurku. Kugapai tas dekil kulit sintetis berwarna coklat dan mengeluarkan pistol yang dibungkus dalam tas kain hitam. Pistolnya kuletakkan persis disamping kanan tempatku bersila.

“Apa yang harus kulakukan dengan pistol ini”, pikirku sambil mengelus-elus larasnya dengan jari-jariku dan posisi pistol tergeletak dilantai begitu saja.

Aku masih terus berpikir sejenak.

“Apakah aku harus membunuh orang dengan menembakkan pistol ini?. Tapi kenapa aku tidak pernah dilatih untuk menggunakan senjata api? Apakah pistol ini telah dilengkapi dengan peluru? Bukankah M tidak pernah mengajarkan aku sedikitpun mengenai senjata? Akhhh…aku yakin aku tidak disuruh menembak! Kalau tugasku menembak orang pastilah aku sudah diajarkan M untuk itu….”, demikan pikirku.

Alinea ke-2 kuncinya. Aku harus memecahkannya segera!

Sunday, October 11, 2009

Penggalan Kisah Heroik - Misteri Tas Busuk 2

Aku kesal. Kuletakkan tas dekil itu di ubin persis diluar kamar mandi, dipojokan. Masih dengan gestur yang malas, aku menuju ke meja makan, duduk dan langsung menyabet tahu goreng buatan si Mak. Sambil mengunyah tahu aku menyeruput teh yang sudah lama dingin.

“Ten, jangan-jangan dari M loh, hadiah ulang tahunmu… Tas nya Mak buka aja yah?”, tanya si Mak. Tiba-tiba si Mak sudah berjongkok di depan tas dekil itu.

Si Mak memanggilku dengan “Ten”. Nama lengkapku adalah Tendra. M yang membuat nama itu. Dia pernah bilang bahwa namaku diambil dari bahasa Sanksekerta yang berarti “ksatria”. Disamping itu, menurut M, Tendra dapat juga dimaknai dengan “Sepuluh Indra”.

“Ten” berarti sepuluh dan “Dra” berarti Indra. Jadi kalau ingin berhasil, kekuatan panca indra harus didobelkan, demikian penjelasan lanjutan dari M.
Aku sendiri lebih senang makna aslinya yakni ksatria, aku tidak mengerti jelas bagaimana caranya mendobelkan kekuatan panca indra. Akh kadang-kadang M memang suka mengada-ada!

“Buka lah Mak…ya pastilah itu dari M..”, tukas ku segera tanpa berpikir.

“Apa isinya Mak?”

“Sebentar…”, balas si Mak.

Setelah aku mengunyah tahu goreng yang ketiga, aku sadar bahwa terlalu lama buat si Mak untuk menjawab pertanyaan tadi. Aku bertanya lagi tanpa melihat kearah si Mak.

“Mak…apa sih isinya??”

Si Mak masih terdiam. Dia berjalan menuju tempat aku duduk. Tas dekil dikepitnya di ketiak sebelah kiri, secarik kertas kumal terlipat rapi, sudah berada di tangan kanan si Mak, terselip pada jemari-jemari tangannya.

Dia duduk persis disampingku. Tas dekil terlihat telah terbuka seluruhnya. Tas kain hitam yang berada didalam tas dekil juga sepertinya sudah dibuka oleh si Mak. Si Mak menyerahkan kertas kumal padaku sambil berujar singkat, “Baca..”.

Melihat mimik wajah si Mak yang menegang, aku tau ini pastilah masalah yang serius. Tanpa banyak tanya aku segera meraih kertas itu, membukanya dan membaca. Segera isi tulisannya membuat jidatku berkernyit.

Begini bunyinya :

“Tegur pas 1. Embun Pelumas Kelu.

Cabe, Ebi, Nenas, Garam. BARU, 5.

Deercod, W.”

Yang membuat jantung berdebar keras, ternyata isi dari tas kain hitam adalah sebuah senjata api. Pistol itu tampak hitam mengkilap, sedikit berminyak. Tampaknya baru saja dibersihkan dengan menggunakan minyak khusus yang menodai sampai ke risleting tas dekil itu.

Apa arti semua ini?

Si Mak dan aku saling berpandangan sejenak sebelum si Mak merangkulku dan berbisik lirih, “Perasaan Mak berkata, inilah waktumu. Ten waktumu telah tiba…”

Aku tertegun.

Terlintas kenangan beberapa tahun silam, saat aku bertanya pada M mengenai semua perihal aneh yang melingkupi seluruh kehidupanku. Semua hari-hariku yang penuh dengan latihan dan ujian itu.

Berulang kali M hanya berkata singkat dengan mata rada menerawang, “Pasti terjawab saat waktumu tiba..”

“Waktuku?”

“Ya, waktumu sebentar lagi…”

“Waktu untuk apa M?”

“Waktu untuk berbuat bagi orang banyak…, saat itu lakukan yang M instruksikan. Lakukan! Kamu dengar Ten?”

“Aku tidak mengerti M…”.

“Jawab saja, apakah kau dengar?”

“Ya, Tendra dengar..”

“Berjanjilah dengan segenap raga dan jiwamu, bahwa saat itu, kamu akan melakukan semua yang M instruksikan padamu tanpa bertanya apapun. Bahkan tidak juga dalam hatimu sekalipun. Berjanjilah….!”

“Ya, Ten berjanji..”

“Yang tegasss Ten….!!”

“YA..TEN BERJANJI…!!!”

Sementara si Mak masih merangkulku, aku berpikir keras apa arti dari surat itu. Perlahan si Mak bangkit berdiri dari tempat duduknya, merapihkan tas dekil dan secarik kertas kumal. Diletakkannya persis didepanku.

Si Mak berkata, “Ten, semua ini buatmu…kamu simak dan pelajari apa maksud semua ini. Kalau perlu bantuan Mak, panggil saja ya…”.

Si Mak mencium keningku, membelai, merapihkan rambutku yang masih acak-acakan dan masuk kedalam kamarnya meninggalkanku sendiri.

Tanpa membuang waktu, aku meraih kertas kumal itu. Pelan-pelan kubaca kembali.

“Tegur pas 1. Embun Pelumas Kelu.

Cabe, Ebi, Nenas, Garam. BARU, 5.

Deercod, W.”

Aku bergumam, “Ini surat sandi”.

Aku telah belajar sandi sejak kecil. M mengajariku dari yang sederhana hingga yang agak rumit. Sekarang M memberiku surat sandi dan senjata api. Apakah ini hadiah ulang tahunku? Aku tidak tahu. Belum tahu.

Aku perlu ketenangan.
Aku beranjak dari tempat dudukku di ruang makan. Aku akan memecahkan surat sandi ini di kamarku. Kutenteng tas dekil berikut isi-isinya. Aku melangkah menuju kamar, membuka pintu kamar dan menutup rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.

Kebiasaanku untuk berkonsentrasi dimulai.

Aku duduk bersila dilantai, kusandarkan punggungku ke sisi tempat tidur. Tas dekil kuletakkan diatas tempat tidur setelah mengeluarkan secarik kertas kumal yang berisi surat sandi itu.

Sekarang dalam posisi bersila di lantai, aku sedang berhadap-hadapan dengan surat sandi M. Surat itu kuletakkan di lantai.

Aku menggeratak rak kecil yang terbuat dari kayu jati tua persis disamping tempat tidur mencari kertas buram dan pencil. Tanpa merubah posisi duduk dan tanpa melihat, jariku terus mencari-cari didalam laci rak itu. Setelah jari-jariku merasakan mendapatkan kedua benda itu, aku meletakkan kertas buram disamping surat sandi dan mulai mencorat-coret.

Setelah beberapa saat aku mencorat-coret, menghabiskan beberapa kertas buram, sepertinya alinea pertama dari surat sandi mulai terpecahkan. Aku menulis hasil dari corat-coretku dengan lebih rapi keatas kertas buram yang masih kosong. Kertas buram yang kosong ini memang sengaja kupersiapkan untuk menuliskan hasil akhir dari sandi yang menurutku sudah kupecahkan. Aku menulis lengkap alinea pertama, kalimat sandinya dengan makna sandi dibawahnya.

“Tegur pas 1. Embun Pelumas Kelu”.
Tugas per 1. Sebelum Pukul Enam”.

Aku melihat lagi hasil tulisanku. Aku senang karena merasa yakin akan pekerjaanku memecahkan sandi pada alinea pertama.

Pastilah kalimat ini bermakna bahwa, ini adalah tugasku yang pertama yang harus kuselesaikan sebelum pukul enam sore ini.

Berdegup jantungku dan spontan aku melirik melihat jam meja diatas rak kecilku. Tugas pertama?? Aku merasa ini bukanlah tugas seperti biasa. Ini bukan PR yang akan diperiksa M ketika berkunjung. Ini sepertinya tugas yang khusus.

Pukul 11.16.

“Wah...masih banyak waktu…”, tanpa sadar aku berbicara sendiri.

Kembali aku tenggelam dengan surat sandi. Alinea kedua.

Kembali mencorat-coret. Tidak kurasakan pinggangku yang mulai sakit karena aku selalu menulis dengan membungkuk sambil bersila. Kakiku telah berulang kali kesemutan. Pantatku mulai pegal. Tapi aku tidak perduli. Aku terus mencorat-coret kertas buramku. Sudah belasan kertas sudah.

Saturday, October 3, 2009

Penggalan Kisah Heroik - Misteri Tas Busuk 1

Berikut sedikit penggalan percakapanku dengan Linda saat pertama kali menceritakan sebuah kisah-perjalanan hidup beliaku.

“Kira-kira…..seumuran om Budi si pengantar koran lah Opa mulai bekerja”
“Opa tukang anter koran juga?, Eh Opa, umurnya om Budi itu berapa sih sekarang?”
“Ngakunya sih om Budi umurnya 22 tahun. Mirip sih…tukang anter-anter juga, ehmm…tapi bukan koran…”
“Wah..kasian Opa, pasti Opa sering pinjem duit kayak Om Budi dongggg….hihihihi.”
“Huuuu…enak aja…Opa tukang anter-anter yang digaji besarrrrrr….”
“Wah,sebesar apa Opa??
“Setiap nganter, Opa dikasi duit yang bisa kira-kira kalo jaman sekarang bisa beli kijang Innova kaya mamimu punya dehh…”
“Wahhhhhhhhhhh….Opa kerennn. Linda pengen akh jadi tukang anter-anter gitu!”


MISTERI TAS BUSUK

Hari sudah larut malam.
Aku terduduk dilantai. Punggungku kusandarkan pada pintu kamar, sedangkan kedua kakiku aku angkat dan topangkan pada sisi tempat tidurku yang terbuat dari kayu jati tua. Topangan kakiku masih terlihat bergetar. Ya, tubuhku masih menggigil ketakutan karena peristiwa sore tadi. Benar-benar menegangkan. Kalau mau jujur, sebetulnya hari yang menakutkan. Aku masih terduduk dilantai. Dinginnya lantai tidak membuatku merasa harus cepat-cepat beranjak. Dan semua ingatan mengenai kejadian hari ini bermunculan lagi..akhh aku kembali gemetar…

Pagi tadi dibuka dengan suasana hati yang tidak baik. Bahkan sebetulnya aku kesal dari kemarin. Bagaimana tidak. Kemarin aku berulang tahun yang ke-22, namun orang yang paling kuhargai dan kusayang di muka bumi ini tidak datang melihatku. Selama ini M-demikian papaku ingin dipanggil-pasti memberikan hadiah jika aku sedang berulang tahun.
Hadiah yang kudapat memang lain. Tidak biasa didapatkan oleh seorang anak dari orang tuanya. Sangat tidak normal, karena yang dihadiahkan kepadaku sejak aku kecil adalah cerita misteri. Semakin bertambah usiaku, semakin rumit cerita misteri itu. Yang lebih tidak wajar lagi cerita itu tidak pernah tamat. M bilang, bahwa tugasku adalah menamatkan cerita itu dengan sebanyak-banyaknya variasi penutup cerita.

Contoh, seperti hadiah ulangtahunku tahun lalu. Sebuah cerita misteri pembunuhan berlatar belakang politik. Sangat rumit, dan berhalaman-halaman panjangnya cerita itu. Aku disuruh menamatkan cerita dengan bermacam-macam pilihan penutup cerita. M biasanya yang memilih penutup cerita terbaik dari banyaknya variasi yang kukarang. Dan kami biasanya akan mendiskusikan cerita yang sudah tamat itu sampai jauh malam. Aneh bagi orang lain, namun bagiku selalu menghangkatkan hati. Aku selalu menunggu hadiah ini tiap tahun!

Satu-satunya hadiah ulang tahun yang sangat pendek kami bahas adalah hadiah cerita pada usiaku yang ke-18. Cerita itu mengenai cerita perselingkuhan. M, mengarang cerita misteri berbau seks dengan sedikit vulgar. Agaknya dia merasa aku sudah waktunya untuk membaca dan membayangkan hal-hal yang dilakukan orang dewasa tatkala sedang bermesraan. Saat itu, aku sangat yakin bahwa M akan memilih penutup cerita terbaik sama dengan karangan yang kujagokan.

Begini resume versi terbaik menurutku. Seorang wanita yang ingin menjebak suaminya tertangkap basah, malah terjebak oleh wanita selingkuhan suaminya. Sang istri yang ingin menjebak untuk menangkap basah suaminya malah terjerumus kedalam perselingkuhan panas yang dirancang dengan sempurna oleh wanita selingkuhan suaminya. Dan akhirnya suaminya menangkap basah sang istri dalam suatu peristiwa percintaan yang lebih vulgar dari yang M karang. Kubuat alurnya rada rumit dan berliku-liku.

Sesunguhnya pada saat itu aku ingin M menyadari bahwa hal demikian bukanlah hal tabu lagi bagiku, dan aku mampu mengarang dengan lebih vulgar darinya. Namun yang terjadi kemudian sangat diluar dugaan. Wajah M memerah-entah karena malu atau karena marah- saat membacanya dan memilih penutup cerita yang sangat datar.

Dia berlalu dengan berkata pendek dan suara dalam, “ending ini paling baik. Yang lain terlalu vulgar, tidak senonoh!”.
Aku yang berharap akan terjadi pembahasan seru, terpaksa harus melongo untuk kemudian tersenyum melihat tingkah M.

Demikianlah.

Kemarin seharian aku menunggu M. Hadiah itu tidak kunjung tiba. Bahkan M tidak kunjung hadir. Ini kali pertama M tidak datang mengunjungi hari ulang tahunku. Hatiku menjadi panas dan sedih. Merasa ditinggalkan dan terlupakan. Kesal.

Tadi pagi aku sengaja bangun telat. Aku bangun jam 9. Biarin.
Padahal kalau saja M tahu aku bangun setelat itu, pastilah aku disuruhnya push-up sampai seharian penuh! Tapi tak mengapa. M tidak datang, sudah hampir sebulan penuh sudah. Kalaupun datang, biar saja. Aku kan memang sedang berunjuk rasa.

Tadi pagi kurang-lebih pukul 6.30, Si Mak - seorang pengasuhku sejak orok, yang kupanggil Mak dan memang kuanggap ibu – telah menggedor kamarku. Lamat-lamat kudengar suara Si Mak memanggilku untuk segera bangun dan berolahraga dan berlatih bela diri seperti kebiasaan yang M ajarkan. Tapi aku hanya melenguh dengan kencang dan berujar, “Mak…aku kurang enak badannnnn…, sebentar lageeeeee….”. Dan si Mak membiarkanku bangun dengan sendirinya.

Telat. Bangun jam 9.

Ya, sejak aku orok aku diasuh oleh seorang inang pengasuh. Pada saat mengasuhku saja sudah memasuki setengah baya. Jadi usia si Mak pastilah hampir memasuki usia 60 tahun. Si Mak tidak pernah tahu tanggal lahirnya sehingga tidak pernah merayakan hari ulang tahun. Orangnya sangat pendiam, hanya berbicara seperlunya. Namun dari pandangan matanya terpancar kasih kelembutan seorang ibu sejati jika sedang melihatku dan mengurus segala keperluanku. Aku mencintai si Mak sebesar aku mencintai M.

Si Mak, walaupun sederhana berpenampilan namun seorang wanita yang cerdas dan berpengetahuan luas. Nampaknya Si Mak pernah mengecap dunia sekolah. Si Mak menguasai 2 bahasa asing secara fasih yaitu Inggris dan Belanda. Peribahasa yang mengatakan jangan nilai sesuatu dari bungkusnya nyata pada diri si Mak. Di waktu kosongnya selalu aku melihatnya tenggelam dalam keasyikan membaca. Kalau sudah begini, dunia milik si Mak semata.

M sendiri bukanlah orang tua kandungku. Usia M mungkin mirip-mirip dengan si Mak. Tapi fisik dan wajahnya terlihat bugar dan jauh terlihat lebih muda dari usianya.
M hanya ayah angkat. M tidak tahu pasti siapa orang tua kandungku. M tidak pernah mengijinkanku berlama-lama membahas topik orang tua kandungku. Kalau aku mulai bertanya tentang itu, yang kudapat adalah hardikan keras dan hukuman berlari mengelilingi lapangan yang ada didepan rumah. 50 kali putaran tanpa jeda. Jadi, aku telah berhenti bertanya bertahun-tahun lalu. M hanya berujar pendek sambil memperhatikan aku yang sedang dihukumnya berlari keliling lapangan, “Yang penting M mengurus kamu. Si Mak menyayangi kamu. Itu cukup!”

Aku lelah bertanya, dan lelah juga berlari. Ya, dan aku cukupkan….

M tidak tinggal bersama-sama kami. M hanya mengunjungi aku paling banyak 10 kali dalam sebulan. Kadang bahkan bisa sebulan tidak kunjung tampak batang hidungnya. Setiap kunjungan hanya bisa menghabiskan waktu denganku seharian, tanpa menginap.

Kegiatan hari-hariku ketika tiada M adalah belajar dan berlatih bersama si Mak. Aku tidak pernah bersekolah dan tidak pernah punya teman. Aku tidak mempuyai ijazah, bahkan ijazah SD sekalipun. M membelikan aku banyak buku sejak kecil, baik buku pelajaran ataupun buku-buku hiburan seperti komik-komik. Sejak aku berumur sepuluh tahun, buku yang dibelikan semuanya berbahasa Inggris. Yang membimbing dan mengarahkan pelajaran adalah si Mak. Si Mak adalah guru akademisku.

Ketika M bersama-sama denganku, kegiatanku bagaikan serangkaian ujian. M menguasai seni bela diri yang komplit yakni gulat, tinju dan taekwondo. Pagi hari, biasanya subuh-subuh, sekitaran jam 5an, M sudah tiba di rumah. Dengan menggunakan kaos hijau polos dan celana training hitam bergaris biru muda disisinya, dia memberikan pelatihan gerakan-gerakan baru bela diri sekaligus menguji latihan gerakan-gerakan dari kunjungan sebelumnya. Jika dirasanya aku gagal dalam ujian itu, dia menjadi cemberut sedih dan menjadi manusia yang kurang asyik seharian. Bicaranya menjadi singkat-singkat dan tegas. Kalau sudah begini, hukuman lari keliling lapangan, push-up akan mewarnai hariku. Aku tidak suka melihat M begitu, sehingga aku berlatih dengan sangat bersungguh-sungguh. Dalam hitunganku, wajah M yang “menyebalkan” itu sepanjang kebersamaan kami hanya terjadi kurang dari 5 kali.

Setelah berlatih dan menguji keahlian bela diri kurang lebih 3 jam, kami akan menuju ruang keluarga. Si Mak telah menyiapkan sarapan. Biasanya Si Mak setia menanti kami untuk bersama-sama menyantap sarapan dengan menunggu sambil membaca buku. Seperti kubilang kan…Tiada hari tanpa membaca.

Setelah sarapan yang sarat dengan diskusi segala hal, kami mandi pagi.

Setelah itu, dimulailah serangkaian ujian akademis dengan teknik diskusi dan tanya jawab terhadap mata pelajaran. Kali ini kalau aku dirasa gagal, maka Si Mak akan menjadi sasaran muka sadis nya M. M merasa Si Mak gagal mendidikku. Aku kasihan dengan si Mak. Aku juga selalu berusaha dengan sangat keras agar Si Mak tidak disorongkan muka sadisnya M.

Kemudian sisa hari itu akan selalu kami isi dengan mendiskusikan apa saja, berdebat apa saja, dan menertawakan apa saja. Yah…Kami bertiga.

Dan pada saat aku sangat mengantuk-biasanya hari telah sangat larut malam- saat itu pula lah M bersiap meninggalkan aku tanpa berkata-kata. Hanya dengan elusan ringan pada rambut diatas jidat, dia berlalu.

Begitulah.

Hari ini aku membiarkan tubuhku bermalas-malasan. Ketika kantung kemihku terlalu penuh untuk tetap kutahan, aku terpaksa berjalan keluar menuju kamar mandi. Lunglai tidak bersemangat aku terus menuju kamar mandi yang persis disebelah kamar tidur Si Mak yang harus kulalui lebih dulu jika ingin ke kamar mandi. Kamar mandi ini berukuran kurang lebih 3x2 meter persegi. Sederhana sekali namun selalu bersih dan harum. Aku suka berlama-lama disini kalau sedang buang air. Kamar mandi ini mempunyai lubang angin berbentuk persegi panjang.

Lobang angin menghadap ke tanah kosong yang merupakan halaman samping rumah. Lubang angin ini diberi penutup kawat kasa. Diujung kiri bawah kawat kassa penutup lubang angin, sudah lama rusak meninggalkan lubang menganga seukuran tiga kepalan orang dewasa yang disatukan. Tidak ada seorangpun yang ingin bersusah payah untuk memperbaiki kawat kassa itu. Bertahun-tahun sudah.

Badanku masih lemas malas dan mataku masih sepet ketika aku berusaha memantas-mantaskan posisi untuk buang air kecil.
Ketika aku sedang mengarahkan pancuran air kencingku biar pas arahnya menuju lubang pembuangan, sembari menguap sehingga membuat arah air kecingku tidak fokus lagi, aku mendongak. Pada saat aku mendongak, terlihat tanpa sengaja lobang angin yang rusak itu.
Biasanya lobang angin itu memang sering kuperhatikan tanpa sadar dan tanpa maksud apapun, hanya melihatnya dengan tatapan kosong. Tapi kali ini aku sedikit kaget. Kawat kassa itu semakin lebar menganga! Dan ada tas asing tergantung dibawah lobang kassa.
Segera aku selesaikan prosesi kencing berikut dengan pembersihannya. Aku menatap sebuah benda berbentuk tas butut berwarna coklat tergantung persis dibawah kawat kassa yang bolong. Tas itu menggantung pada sebuah paku besar yang tertancap didinding. Paku itu dulu ditancapkan oleh M secara darurat ketika gantungan baju dikamar mandi rusak.
Tas tangan pria berbahan kulit sintetis murah itu sudah sangat keliatan busuk. Disana-sini kulitnya terkelupas meninggalkan bekas luka yang menjijikan. Hitam dekil.

Tas siapa itu?

Ini tas tangan laki-laki. Jelas bukan Si Mak punya.

Otakku berpikir sejenak. Memperhatikan lubang yang menganga makin besar itu. Pastilah dimasukkan seseorang lewat lubang kassa itu sehingga membuat kassanya semakin menganga. Hali ini semakin diperkuat dengan adanya bekas debu yang tertinggal di lantai kamar mandi. Ditambah lagi dengan adanya goresan debu dari kassa yang menempel didinding kamar mandi, pastilah itu disebabkan bekas dorongan secara paksa sehingga membuat debu-debu pada kassa tertempel pada tas dan menempel pada dinding.

Seseorang pasti telah melompati pagar depan yang terbuat dari pagar tanaman, berjalan sebentar menuju samping dan segera menemukan adanya lobang menganga ini, memasukkan tas dan lantas pergi.

Siapa orang itu? Tas siapa ini? Apa pula isinya? Apa maksudnya?

Tidak lama kemudian aku tersenyum. Aku menduga pastilah M yang melakukan semua ini. Ternyata M tidak melupakan hari ulang tahunku. Ternyata hadiahnya lebih seru dari tahun sebelumnya. Pastilah isi tas ini sebundel cerita misteri.

Tapi kenapa M tidak mampir dan memberikannya langsung? Kapan diletakkannya disini? Sebelum tidur tadi malam aku sempat masuk kekamar mandi, tapi aku yakin tas busuk ini belum ada disitu!

Si Mak juga baru saja memberi klarifikasi bahwa tadi pagi kira-kira jam 5, pada saat Si Mak menggunakan kamar mandi, tas busuk tersebut juga belum ada.
Membingungkan. Aku mengintip isinya. Dengan setengah geli, aku hanya memegang ujung anak risleting dan menguakkannya sedikit demi sedikit. Sebentar-bentar aku melap tanganku, karena rasanya memang sedikit berminyak.
Hanya sedikit terkuak aku bisa langsung mengira bahwa isinya bukanlah bundel cerita misteri. Ada secarik kertas kumal dan masih ada tas kain hitam yang membungkus sesuatu benda didalamnya. Seperti benda metal.

Akhhh….apa maksud semua ini ya? Bikin capek aja.

Friday, October 2, 2009

Penggalan Kisah Heroik - Pendahuluan - Sebuah Jeda

Gundah juga melihat sebuah segmen "khayalan iseng" dalam blogku sepi tulisan. Padahal sejak awal membuat blog, aku sudah membayangkan bahwa setiap segmen akan saling kejar mengejar. Tapi lihatlah, sepi tulisan.

Aku berniat untuk mengejar ketertinggalan segmen ini. Oleh karena itu maka di hari-hari berikutnya akan ada sebuah karangan bersambung. Mudah-mudahan bermanfaat.

PENDAHULUAN - SEBUAH JEDA

Sebulan belakangan ini aku sangat bahagia. Seorang cucu perempuanku - Linda - menghadiahkan aku sebuah laptop di hari ulang tahunku yang ke 70. Cucuku memberikanku laptop dengan syarat aku mau mengetikkan cerita masa mudaku kedalam komputer.

Aku mempunyai kebiasaan menulis kisah masa mudaku kedalam buku kecil. Biasanya aku langsung mencorat-coret jika aku mengalami kejadian yang pantas untuk diabadikan. Kadang berupa cerita naratif, kadang berupa rangkuman peristiwa, kadang sketsa-sketsa. Tidak ada yang baku bagaimana caraku mendokumentasikannya, semauku saja.Yang jelas selalu menggunakan ballpoint bertinta biru. Buku kecil itu sedemikian banyaknya dan masih tersimpan rapi.

Aku masih sangat mengenang saat Linda pertama kali memaksaku untuk menceritakan isi buku-buku kecil itu. Saat itu dia masih duduk dibangku SD. Kelas 5.

Hari masih pagi. Suasana pagi yang sejuk dan cerah membuat suasana rumah ceria. Kicauan burung masih ramai terdengar membuat kecerian semakin bertambah. Linda sedang menghabiskan hari libur akhir pekannya di rumahku. Biasanya diantar oleh orang-tuanya atas permintaan Linda.

Aku duduk di halaman belakang, didalam sebuah gazebo kecil yang kubuat sendiri, membaca koran ditemani dengan pisang kepok bakar dan kopi Medan sebagai sarapan. Dari tempat dudukku didalam gazebo, aku bisa melihat langsung ke arah kamarku. Aku ingat Linda dengan baju tidur berwarna kuning muda berlari-lari kecil mengarah kamarku yang sedang terbuka lebar. Aku melirik ke arahnya dan melihat rambutnya dikucir dua menari-nari. Aku tersenyum dan meneruskan membaca koran sambil menyeruput kopi.

Setelah aku meneruskan kembali membaca koran,aku kembali melirik Linda. Pada saat itu aku melihat Linda telah menemukan kardus yang berisi penuh buku-buku kecilku di pojokan kamar. Dengan tangannya yang halus mungil dia mengambil sembarangan sebuah buku kecil dari dalam kardus itu. Kemudian dia mulai membolak-balik halaman demi halaman dalam buku kecil tersebut. Matanya yang bulat dan jernih itu telah mengisyaratkan suatu pertanyaan besar tentang isi kardus yang penuh dengan buku-buku kecil dekil dan apa yang tertulis dalam sebuah buku yang dipegangnya. Aku memperhatikan dari kejauhan sambil berpura-pura sibuk membaca koran. Biasanya Linda tidak pernah mengganggu waktu membacaku di pagi hari.

Namun tidak di pagi ini.
Tidak lama kemudian dia sudah tepat didepanku, menyibakkan koran yang menghalangi wajah kami untuk saling berhadapan. Sekarang kami sudah bertatapan. Kontak mata.

Dengan berpura-pura terganggu aku berdehem dan bertanya serius, “ehemmm…Lin, ko ganggu Opa? Sering Opa bilang, jangan pernah ganggu Opa lagi baca. Ini benar-benar….”

Linda memotong kalimatku dan agaknya rasa penasarannya lebih kuat daripada rasa hormatnya padaku.

“Ini buku apa Opa?”, tanyanya dengan wajah serius. Lebih serius dari wajahku. Ingin rasanya segera merangkulnya dan mendudukan dalam pangkuanku. Aku gemas melihat wajah “bayi”nya itu. Tapi aku urungkan. Aku harus sukses memainkan peran serius ini.

“Lin, denger ga apa yang Opa bilang?”

“Denger… Tapi ini buku apa Opa?? Ko di kamar Opa buanyakk banget buku kayak gini???”, matanya semakin membulat tak berkedip. Hmmm…aku tau ini ciri khas yang menandakan cucuku ini sangat butuh jawaban. Penasarannya itu bak bisul tua yang sedang menantikan saat pecah.

“Kenapa?”, akhirnya aku mengalah. Aku mulai lembut dan menaikkannya keatas pangkuanku. Salah satu kucirnya aku belai-belai.

“Ihhh opa…ini buku apa??”, nampaknya Linda semakin tidak sabar.

“Jawab donggg…!”

“Kenapa kamu tertarik dengan buku jelek itu? Itu buku Opa. Opa suka tulis-tulis aja tentang kisah Opa muda dulu..”

“Kok, tulisannya Opa jelek begini. Parah banget. Ga bisa kebaca ama Linda.”

“Buat apa kamu baca. Itu belum pantas kamu baca. Itu buku untuk orang tua taukkk….,” kataku menggoda sambil mencium pipinya.

“Akhhhh….kumis opa geli tuh…sono akhhh. Ceritain!”, Linda mendorong wajahku, sambil menyodorkan buku kecil dekil itu.

Agaknya aku selalu kalah dalam berdebat dengan bocah ini. Tidak pernah bisa menang. Tapi isi dari buku ini memang belum pantas untuk diceritakan kepada bocah SD.

“Sini…”, aku mengambil buku itu.

Wajahku kupasang seserius mungkin. Aku membetulkan posisi kaca mata bacaku.
“Ini halaman pertama. Ini mengisahkan cerita pertama kali Opa menulis. Saat itu Opa masih berusia 22 tahun. Opa menulis karena ada cerita yang mengubah hidup Opa selamanya….”, aku mengarang cerita seadanya. Aku mengarang tapi sebuah karangan cerita yang jujur. Sebetulnya isi cerita dalam buku tersebut bukanlah itu, namun kisah yang kuceritakan pada Linda adalah yang sesungguhnya.

Alasan aku menulis pertama kali karena aku ingin mengenang semuanya. Terjadi sebuah peristiwa besar yang mengubah seluruh perjalanan hidupku. Dan aku bersyukur bahwa keputusanku untuk menulis adalah tindakan yang tepat. Suatu hal yang bisa kubagikan, tidak saja kepada anak cucuku, tapi juga kepada orang lain.

Sejak saat itu, Linda dan aku mempunyai kebiasaan baru. Setiap akhir pekan, keinginannya untuk menginap di rumahku tidak terbendung. Linda ingin mengikuti cerita-cerita dari buku kecilku yang telah dekil.

Setiap akhir pekan dia akan mendapatkan cerita baru yang sangat berkesan baginya. Aku menceritakan seturut dengan perkembangan umurnya tentu saja. Dan itu membuat cerita yang sudah pernah diceritakan menjadi baru kembali karena ada beberapa hal yang kuceritakan lagi setelah usianya pas untuk itu.

Linda terus-menerus datang tiap akhir pekan untuk diceritakan kisah-kisah dalam buku-buku kecil itu. Tiap akhir pekan sejak pertama kali dia mengetahui adanya buku kecil tersebut. Sampai sekarang.

Linda sekarang sudah mengerti dengan baik cara membaca tulisanku. Mulai mengerti membaca sketsa gambar, grafik, hitungan, dan segala corat-coret yang ada dalam buku-buku kecilku. Tidak jarang dia aku suruh menceritakan kembali kisah-kisahku, dan dia menceritakannya dengan baik. Walau dia sudah bisa membaca sendiri, namun dia lebih menyukai kalau aku yang menceritakan kembali. Dia suka lekat memperhatikan ekspresi wajah dan intonasi suaraku. Bahkan pada saat aku menangis mengenang beberapa peristiwa pedih, Linda bahkan lebih terisak seolah-olah dialah yang mengalami peristiwa itu.

Begitulah semua hal dimulai.

Dan aku tengah menikmati mengetik kembali semua cerita-cerita di masa mudaku kedalam laptop yang dihadiahkan Linda pada ulang tahunku bulan lalu. Aku menikmati semua pekerjaan menulis ini. Linda tahu hal itu dan sekarang kegiatan Linda di akhir pekannya adalah melakukan editing atas ketikanku.Berikut akan aku sajikan secara berurutan semua kisah-kisah saat aku muda dulu. Silahkan dinikmati dan jika ada yang dapat diambil sebagai pelajaran, silahkan diambil. Semoga bermanfaat.

Thursday, February 5, 2009

Macan Mimpi

Once again, we are talking about my dream...

Aku punya mimpi yang banyak. Baru sebagian kecil yang terwujud. Sebagian kecil lagi sedang diupayakan dan sedang dalam proses pencapaian, mungkin dalam setahun ini, atau tahun depan, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Yang penting diraih dan dikerjakan secara terus menerus.

Beberapa hari lalu, aku ketemu lagi dengan sobat karibku yang berkumis dan selalu menggaruk-garuk kepalanya. Macamnya ada ketombe atau kutu di kulit kepala. Padahal tidak. Hanya kebiasaan aneh yang menjadi ciri khasnya. Jadi kalau ketemu si kumis ini dan ia tidak menggaruk-garuk kepala, pastilah gendurowo telah menjelmakan dirinya menjadi si kumis ini. Secara kan..gendurowo bisa berubah bentuk. (Aku dari dulu tidak suka dengan penggunaan kata "SECARA".. tapi yah biar sedikit gaul, aku gunakan seperlunya. Secara, aku kan gaul. Ini aku jelaskan supaya si kumis ini mengerti perkembangan bahasa jaman sekarang..kekekekekek)

Kami membicarakan sebuah mimpi yang menjadi kesamaan mimpi kami. Dan kami sedang mengupayakan perwujudannya, terhitung mulai sekarang. Ada beberapa sobat karib yang kami tahu mempunyai mimpi yang sama. Rencananya dalam waktu dekat akan kami undang juga untuk berdiskusi mengenai mimpi kami ini.

Mimpi kami ini mengenai upaya memberi sesuatu kepada dunia. Sesuatu di bidang pendidikan. Pendidikan yang mempunyai konsep beda dari yang sudah ada. Harus diwujudkan! Jangan cuma bisa berak di pagi hari, makan, berak lagi deh besoknya. Betul kan kawan...Betulllllllll.......Pinterrrr.

Dengan sumber daya yang kami miliki, seharusnya mimpi ini tidaklah begitu besar. Tinggal bagaimana membuat kawan-kawanku ini berani keluar dari "goa" persembunyiannya yang walau sudah jelas-jelas mencekik kreativitasnya tapi masih mengendon di dalam goa itu. Selain itu, ada satu lagi yang kucemaskan. Mereka ini orang-orang hebat (well at least mereka merasa demikian...kikikikikik..). Sedikit sulit menyatukan macan-macan jantan dewasa dalam satu kandang, sedangkan betina yang mau "dimainkan" hanya satu. Mudah-mudahan macan-macan ini sudah mulai tua sehingga tidak cepat horny lagi dan bersedia menggilir secara bergantian macan betina ini. Hmm...tapi siapa yang duluan...??

Apapun itu kurasa ini harus segera diseriuskan. Sudah terlalu lama mimpi ini dibiarkan. Sudah terlalu lama dunia menunggu kita kawan...

Sunday, January 25, 2009

Hidup Sekali Saja

Wahai kawan...

Kalau kita mati esok, apa yang kita tinggalkan buat orang-orang yang masih hidup?
Ada yang jawab, "keluargaku udah aman lah, rumah sudah ada, mobil ada, deposito, asuransi, dll..."

Ok, aku ganti pertanyaannya deh, biar menjawabnya lebih pakai otak yah...

Kalau mati esok, sumbangsih yang kita berikan kepada masyarakat apa ya? Apa yang bisa dikenang dari kita? Nah loh...ada dua pertanyaan sekaligus tuh...
Ada yang ndableg jawab,"kalau gw udah mati ya masa bodoh, mana gw tauuuu lageee!"

Jujur saja deh kawan...yuk jujur yuk...

Banyak orang yang mati walau dia kaya raya tidak banyak dikenang oleh masyarakat. Mati ya mati saja. Tidak ada kontribusinya bagi orang hidup. (Joke : berapapun SKP yang pernah terbit, kagak pernah dikenang orang kok mennnnn......)

Tidak bisa kupungkiri aku ingin berbuat sesuatu bagi dunia. Inilah jawaban yang jujur bagi orang-orang yang seusiaku. Ada keinginan untuk berbuat sesuatu yang besar sebelum terlambat. Rasanya didadaku begitu meletup-letup jika mengingat perihal ini.

Hidup ini hanya sekali. Usiaku mungkin hanya 30-35 tahun lagi. Yang produktif terpakai mungkin hanya 20 tahun sebab sisanya lagi dipakai untuk tidur, istirahat atau terbaring sakit.
Luar biasa, 20 tahun itu tidaklah lama bung. Ingat...aku saja sudah bekerja 18 tahun. Tidak berasa kan??

Dari waktu yang sisa ini aku harus berbuat sesuatu. Hidup dalam comfort zone benar-benar jebakan. Membuat gen keberanian menjadi tumpul. Padahal tanpa keberanian aku tidak akan pernah berbuat apa-apa. Aku harus mencari wadahku sendiri untuk berbuat hal besar.

Hidup ini hanya sekali.

Wednesday, January 21, 2009

They said this day would never come!

Tadi malam aku menonton inagurasi B.H Obama, sebagai Presiden AS ke 44. Acara ini berakhir hingga dini hari waktu kita. Sebelumnya di HBO ada siaran ulang pesta menjelang inagurasi. Mengusung tema "We are One". Semua acara berlangsung dengan sempurna.

Saat ini, buatku, sah lah sudah AS menyandang negara terbesar di jagad. Ini pengesahan dari jargon yang sering digadang-gadangkan mereka dengan "equal and justice for all".
Presiden Negro untuk pertama kali. Negro istrinya..hmm anaknya yah udah pasti negro juga bukan? Ya iyalahhh..
Pokoknya negro total.

Tiba-tiba aku menghayal. Persis saat aku baru bangun pagi. Di sofa depan TV.

Aku berada di National Mall, berdesak-desakan. Mengenakan outfit tebal..huhhhh..dingin..brrrr..,bukan seperti kata-kata artis bahenol Ayu Azhari disalah satu acara infotainment. Mengaku diundang AS, dan dia akan memakai baju batik karena ia bangsa Indonesia.
Cantik-cantik kok tolol..mbak..mbak..dingin loh...pentilmu bisa beku dan patah jatuh. Susah nyari pentil seindah pentilmu lohh... masa mau diganti dengan kismis??
Lanjut Ayu lagi, dia akan menyalami Obama dan menyatakan bahwa Indonesia ikut senang dengan terpilihnya anda sebagai Presiden..
Huahhhh...ancurrrr...Bodoh kok permanen. Siape ente kok bisa-bisanya nyalami Obama.
Jangan marah ya mbak..kan tadi udah kupuji pentilnya okehhh...
Udah akhh males komentar!

Lanjut.
Aku membawa banner bertuliskan "Renewal our Country", tergambar juga diatas banner itu wajah Obama. Sebelah kiriku ada sesama bangsa Asia, didepanku Latin, dibelakang Negro, dan disisi lain ada orang Hawai. Tidak perduli suku dan agamanya apa, kami saling berangkulan setelah meneriakkan nama President elect-Obama.
Dan saat tiba "pentahbisan" Obama menjadi Presiden, tak kuasa aku menitikkan air mata. Semoga orang hitam ini mampu memperbaharui AS yang lebih makmur dan lebih bersahabat.
Aku bangga jadi warga AS.

Tiba-tiba saja khayalanku buyar. Anakku mengganti saluran tv, pas berita nasional di salah satu tv swasta. Volume belum diadjust, aku kaget. Buyar sudah! Anjrit. Tiba-tiba nongol wajah SBY.
Yaelahhh...cape dehhhh...
Aku bergumam...Tuhan kenapa Kau tidak bertanya dulu aku mau dilahirkan sebagai bangsa apa??

Negara kita juga sering gembar-gembor..."Equal and Justice for All"
Bhinneka Tunggal Ika...We are One... Sampe serak tukhhh.....
Kampret...kata siapa...

Jadi menghayal lagi dehhh...bosenin juga lama-lama!

Suatu ketika, Pres RI dinilai tidak dari suku dan agama tapi dari kompetensi dan integritasnya.
Baru saja terjadi serah terima jabatan antara Presiden RI ke 12 yakni James Willem Pattiwael kepada Presiden RI ke 13 yakni Pandapotan Simare-mare. Terlihat di layar kaca, acara tersebut dihadiri oleh Presiden-presiden terdahulu, yakni Bambang Utoyo, Supriyono, Dll.
Semua bertepuk tangan dan banyak yang terharu, sampai menitikkan air mata. Acara ini disiarkan langsung ke berbagai penjuru dunia. Sah lah negara ini disebut Negara besar dan Bangsa besar. We are one and, Equal and Justice for All.

They said this day would never come.....
(Sepenggal kutipan pembukaan pidato Obama saat sah pertama kali kampanye mewakili kubu partainya)

Monday, January 19, 2009

BAJ (Blm ada judul) part 3

BAB 3 Keributan Kandidat Pengganti Pendeta


Dewan Penasihat, Presiden dan para menteri telah berkumpul di Goa Datar. Inilah petinggi-petinggi klan. Sidang pendahulu penggantian komandan tempur dimulai hari ini.


Goa datar adalah salah satu goa penting yang digunakan untuk bersidang oleh para petinggi-petinggi klan Kumpulan. Disebut demikian karena goa ini satu-satunya yang memiliki lahan luas nan datar, mirip alun-alun mini namun ada di dalam goa.


Walau menang perang, tidak ada pesta. Yang ada kekhusukan karena sehari lalu baru saja memakamkan seorang komandan tempur yang bijaksana dan pemberani bernama Pendeta.


Pemberian nama Pendeta karena Ayahnya yang terlahir dari etnis Batak mengidamkan seorang yang saleh pemberi kedamaian bagi klan yang terus berperang. Orang tua Pendeta yang memiliki dua orang putra, terkenal bijaksana dan pencinta kedamaian. Tidak jarang orang tuanya dicemooh oleh warga klan karena dinilai pengecut.


Cita-cita ternyata tidak sama dengan kenyataan. Pendeta yang tumbuh cerdas diharapkan anti perang ternyata memiliki sikap kepemimpinan yang luar biasa dan sangat menyenangi peperangan. Teknik tempur dan strategi penyerangan dipelajari tekun sejak remaja dan akhirnya menjelma menjadi salah satu komandan tempur yang sangat dikagumi dalam sejarah klan.


Duduk bersila dibawah bendera besar klan Kumpulan dan bendera hitam berkabung, para petinggi memulai sidangnya. Duduk menghadap para petinggi adalah tamu undangan yang dianggap penting seperti pejabat-pejabat lain dalam klan dan staf-staf ahli komandan tempur.


“ehem…”, deheman Presiden membuka pembicaraan. Setiap kali terdengar suara, goa datar akan sedikit membuat gaung khasnya goa datar.


“Selamat datang semua. Seperti yang kita ketahui agenda kita hari ini adalah mencari komandan tempur yang baru. Kemarin, semua telah mendengar pidato duka saya pada saat pemakaman yang mulia Pendeta. Kemenangan perang kita ini harus ditebus dengan hilangnya orang yang sangat kita cintai. Duka saja tidak menyelesaikan masalah, karena kemenangan ini tiap saat dapat direnggut dari kita. Saat ini kita berkumpul untuk melihat dan mendengar daftar nama yang telah dipersiapkan oleh masing-masing penasehat. Aturan kita mengharuskan masing-masing penasehat mencalonkan 4 orang sebagai kandidat. Dan tidak seperti biasanya, tes-tes untuk memilih Kompur akan kita gelar secepatnya. Besok pagi akan kita mulai dengan tes akademik, hasilnya diumumkan keesokan sorenya. Pertarungan duel akan segera digelar kesokan pagi setelah pengumuman kelulusan kandidat dalam tes akademik. Pertarungan duel kami perhitungkan selesai kurang dari seminggu. Demikianlah agendanya. Agar mempersingkat waktu, kami persilahkan para penasehat untuk membacakan para calon komandan tempur….silahkan”, demikian kalimat singkat pembuka sidang dari Presiden klan.


Para penasehat bertukar pandang sejenak dan sepakat untuk memulai dari arah paling kanan yang paling berdekatan dengan duduknya Presiden. Seorang penasehat bertubuh pendek, botak, dan berjanggut putih membuka selembar kain kumal bertuliskan nama-nama calon.


Sambil mengelap jidatnya yang terus berkeringat dia mulai bicara. “Terima kasih, ini kandidat kami. Betawi mencalonkan Andi jabatan staff ahli komandan tempur, Rijal jabatan Kepala Rumah Bela Diri Klan, Yongki ahli rekondisi alat tempur, dan terakhir Jaja warga biasa yang dikenal pintar dan ahli bela diri oleh etnis kami”.


“Baik, kami dari etnis Minang. Inilah kandidat kami. Syam jabatan Menteri Dalam Negeri, Basir staff ahli komandan tempur, Kamal jabatan Kepala Teknologi Klan dan terakhir Ridham jabatan Kepala Pengamanan Air Klan”.


“Ok, berikutnya, kami dari kumpulan etnis minor. Kandidat kami, Kumar alias Keling jabatan Menteri Pemberdayaan Warga Klan, Li Cheng alias Bandot jabatan staff ahli komandan tempur, Akbar alias Bulu jabatan Kepala Energi Klan, Nickolas alias Bule jabatan Kepala Pengusaha Klan”.


“Baiklah kami yang terakhir, mohon maaf sebelumnya, ingin rasanya pakai alias, tapi kandidat kami entah kenapa tidak memilikinya…..hehehe….”, ujar penasehat dari etnis Batak yang diiringi dengan tawa oleh peserta sidang.

Lanjutnya kemudian, ”Kandidat kami, Pandapotan Menteri Keuangan, Korsi Asisten Ahli Menteri Dalam Negeri, Parada Asisiten Menteri Spiritual dan yang akhir adalah Jamin Kepala Persenjataan Klan”.


Demikianlah semua penasehat telah membacakan daftarnya.


Dan ketika Presiden tampak ingin berbicara, tiba-tiba dari arah yang berhadapan dengan para petinggi berdiri seorang pemuda gagah berambut panjang terurai. Setengah berteriak dengan matanya yang memerah.


“Saya tidak terima…saya tidak terima yang mulia para petinggi!”, ujarnya tegas menimbulkan gaung yang cukup lama. Tambahnya, “Saya protes karena menurut kebiasaan….”


“Diam kau anak muda!”, potong Presiden sambil berdiri diikuti oleh seluruh petinggi.


Rupanya dalam sidang klan ada semacam etika bahwa berdiri sebelum para petinggi berdiri atau sebelum diperkenankan oleh Presiden maka tidaklah sopan jika ada warga yang mendahului untuk berdiri. Ini merupakan penghinaan besar jika dilakukan didepan para petinggi. Penghinaan besar kepada Presiden, sehingga apabila Presiden melakukan apa saja terhadap si pelanggar, semua warga akan memakluminya.


“Kau saya perintahkan untuk duduk bersila sopan”, imbuh Presiden dengan suara yang dalam, memperlihatkan karismanya.


Namun sang anak muda ini tidak serta merta duduk malah berujar,”menurut tradisi klan, seorang staff ahli tempur selalu dicalonkan oleh etnisnya menjadi komandan tempur, kenapa saya tidak?”.


Sangat berang dengan sikap pemuda ini, Presiden dengan cekatan melemparkan pisau kecil dari selipan ikat pinggangnya tepat mengarah ke dengkul si pemuda dengan maksud melumpuhkan dan membuatnya terduduk. Terdengar desingan dan kilatan pisau kecil itu sedemikian cepatnya melesat. Semua yang hadir terkejut dan menduga pastilah si pemuda ini menderita cedera pada tempurung kakinya.


Dan,”trakkkk…” terdengar bunyi yang nyaring.


Dugaan itu ternyata salah. Tiba-tiba saja pisau kecil itu telah terhimpit di bawah kasut perang sang pemuda. Kasut perang terbuat dari bahan kain tebal seperti terpal sampai ke betis dengan alas kasut terbuat dari olahan karet keras. Tidak ada yang dapat melihat bagaimana Militant berhasil melakukan itu. Begitu cepat dan singkat.


Tak urung sang Presiden terkesima dan sesaat kemudian beliau berujar, “jika kau tidak menuruti perintah saya untuk segera duduk bersila, maka silahkan keluar atau saya perintahkan seluruh staf ahli komandan tempur untuk membunuhmu!”.


Tanpa diduga ketiga staff ahli komandan tempur yang duduk sejajar dengan pemuda ini semuanya berdiri untuk kemudian memeluk pemuda itu dan memaksanya duduk.


Bandot yang terkenal penggusar dan tidak tahu aturan, memeluk erat pemuda ini dan mendudukkannya kembali. Li cheng disebut bandot karena janggutnya menyerupai janggut kambing dan keberaniannya yang selalu menyeruduk lawan lebih dulu juga ibarat kambing marah.


Bandot berbisik, ”sabar sobat, aku mendukungmu. Tapi harus dengan tertib dan sesuai aturan. Aku, Bandot, yang kau bilang selalu tidak punya aturan, sekarang lihat siapa yang tidak punya aturan….hebat kau sobat, tapi tenanglah dulu”.


Sejurus kemudian Bandot berujar kepada para petinggi yang nampaknya masih gusar. “Saya Li Cheng, mohon maaf yang mulia petinggi. Militant sudah tenang. Kawanku ini hanya masih sangat berduka karena kepergian abangnya. Kami para staff ahli komandan tempur menjamin ketenangan sidang ini. Silahkan Presiden untuk melanjutkan sidang.”


Suasana tenang kembali dan para penasehat terlihat bertukar kata yang intinya adalah Bandot dan Militant seakan beralih tempat dalam berperilaku. Militant dikenal sangat sopan dan tahu aturan dan sebaliknya si Bandot inilah yang terkenal selalu membuat heboh dalam persidangan. Dan mereka kemudian berbisik kepada Presiden untuk meminta Presiden memahami kejadian ini karena Militant kelihatan masih terganggu emosinya.


Disaat masih hening, Presiden melanjutkan. “Baiklah dengan menghormati dewan penasehat dan menghargai teman-teman staf ahli kompur maka saya mempersilahkan anda untuk meneruskan apa yang menjadi protesmu. Silahkan Militant..”.


Kali ini sambil duduk bersila dengan mata yang masih memerah, Militant menjawab dengan lugas, ”yang mulia para petinggi, saya telah bersumpah untuk memenggal Nowa klan Wanda demi abang saya. Ijinkan saya maju berkompetisi menjadi Kompur. Kebiasaan klan ini selalu mengikutkan staf ahli kompur sebagai kandidat. Kenapa saya tidak.. Ijinkan saya..mohon, ijinkan”.


Presiden melihat kepada penasehat etnis Batak dan memberikan sinyal kepadanya untuk menjawab keberatan Militant.


“Sidang yang terhormat, kami dari etnis Batak ingin sekali mengajukan nama anda sebagai kandidat, namun menurut undang-undang kita, seorang Kompur haruslah berusia semuda-mudanya berumur 25 tahun. Sedangkan menurut catatan kami, usia anda baru beberapa hari yang lalu memasuki usia 22 tahun”, demikianlah penjelasan penasehat etnis Batak, seorang tua kurus berkacamata bulat dan semua rambutnya telah beruban.


Kemudian Presiden menambahkan, “kalau memang demikian, Militant, kau bisa maju menjadi kandidat 2 tahun lagi. Sabarlah menunggu”, pinta Presiden.


“Kalau saya tidak diijinkan untuk menjadi kandidat kompur, maka saya akan mengundurkan diri saat ini juga”, tukas Militant cepat, namun kali ini dia berujar dengan halus dan lembut sambil melucuti pin emas di dada, lambang jabatan staf ahli kompur dan meletakkannya di pahanya.


Perilaku melucuti lambang dan menaruhnya di paha adalah simbol kekecewaan yang dasyat terhadap klan. Dan yang membuat peristiwa ini sangat khusus adalah dilakukan oleh seorang Militant.


Militant adalah pemuda yang sangat brilian. Karir di militer digeluti pada usia yang sangat muda yakni 13 tahun. Usia termuda untuk diijinkan terjun dalam kemiliteran menurut aturan klan Kumpulan adalah usia 16 tahun. Belum pernah ada yang semuda itu sepanjang sejarah. Pengangkatan pertamanya sebagai militer dulu menimbulkan kontroversi berkepanjangan.


Pengangkatannya sebagai staf ahli kompur juga yang termuda sepanjang sejarah yakni usia 18 tahun. Pendeta, sang Kompur, enggan melantiknya sebagai staf ahli kompur karena mengkhawatirkan adiknya yang masih belia untuk terlibat dalam kancah perang brutal, juga menimbulkan kontroversi. Hanya karena prestasi tempur di medan perang dan desakan warga dari seluruh etnislah yang membuat Pendeta tidak mempunyai pilihan lain.


Militant selalu mengundang perhatian dalam kariernya. Kecakapannya dalam bergaul membuat ia selalu diterima bak saudara dalam etnis manapun dalam klan nya. Pengetahuan akademisnya juga luar biasa. Kekuatan ingatannya yang seperti mesin scan membuatnya unggul dalam pengetahuan apapun. Kemampuan analisanya mengagumkan. Wajahnya tidak dapat dibilang ganteng, namun gagah dan memancarkan kelembutan dan karisma yang luar biasa. Tubunnya tegap, atletis dan menunjukkan perkembangan penuh layaknya orang dewasa.


Dan kali ini, kekecewaan terhadap klan telah dinyatakan tegas dan jelas dengan menjatuhkan lambang jabatan ke pahanya. Sidang terhenti sejenak. Semua peserta sidang terkesima.


Bandot tiba-tiba berteriak lantang, ”jika Militant mengundurkan diri, Bandot juga”, Bandot mencabut lambang jabatannya dan menjatuhkan ke pahanya.


“Bagi seorang Bandot, tidak ada semangat lagi untuk berperang jika kehilangan Pendeta dan Militant, semua ini tidak berguna!”, lanjut Bandot dengan mendelik bersemangat sambil meremas-remas tengkuk Militant seolah-olah ingin menyampaikan dukungan, sampai Militant harus menahan kepalanya agar tidak terdorong terlalu jauh kedepan.


Tidak diduga kedua staf ahli kompur yang lain yakni Andi dan Basir melakukan hal serupa tanpa kata-kata, hanya melepaskan lambang jabatan dan meletakkannya diatas paha mereka.


Goa datar serta merta dipenuhi oleh suara berisik oleh bisik-bisik peserta sidang yang berkepanjangan, menimbulkan gaung dan kombinasinya menerbitkan suara dalam goa datar menjadi aneh tidak karuan.


Presiden dengan cepat menepuk tangannya sebanyak tiga kali dan menenangkan sidang.


“Plakk..plakkk…plakkk…. Harap tenang. Kawan-kawanku staf ahli kompur, kami tidak dapat membiarkan aturan dilanggar seenaknya. Tugas Presiden untuk menjamin itu. Namun demikian, ijinkan kami selaku petinggi untuk berdiskusi mencari jalan keluar. Silahkan kalian semua untuk keluar sejenak dari goa datar. Tunggu panggilan kami untuk membuat keputusan akan situasi ini”.


Presiden dan para petinggi lain berdiri dan mempersilahkan semua untuk keluar dari goa datar.


Setelah semua meninggalkan goa datar dan menyisakan para petinggi dalam goa datar, penasehat etnis minor tertawa terbahak-bahak.


“Ha..ha..ha…tadi aku melihat ekspresi wajah dari Presiden, sewaktu Militant berhasil melumpuhkan pisau kecil tadi...hahahaha…luar biasa…sampai beliau seorang mantan Kompur hebat di jamannya pun melongo”.


Presiden tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, berujar, “betul-betul luar biasa…, dasyat dia, belum pernah kulihat gerakan secepat itu”.


“Ok, sebaiknya kita hentikan gurauan ini, dan seriuslah. Saya agaknya mempunyai jalan keluar atas situasi ini”, ujar penasehat etnis Minang yang terkenal serius dan punya pengetahuan luas.


“Pada tahun 2810, pernah diangkat Kompur berusia 24 tahun dengan landasan hukumnya adalah undang-undang darurat yang diterbitkan pada tahun yang sama. Dewan Penasehat waktu itu tanpa Presiden, mengundangkan undang-undang darurat, oleh karena Presiden, Kompur dan tiga staf ahli kompur tewas terkubur dalam goa logistik akibat gempa bumi. Saat itu, seorang staf ahli kompur terpaksa ikut dalam kandidat Kompur dan berhasil memenangkan jabatan Kompur di usia 24 tahun. Bertahun-tahun klan kita tanpa Presiden, Dewan Penasehat membentuk Presidium dalam memimpin klan. Undang-undang itu dibuat karena klan waktu itu tidak punya banyak pilihan orang-orang ahli tempur. Dan memang situasinya darurat. Undang-undang itu mengisyaratkan keadaan dapat dinyatakan darurat oleh Presiden atas ijin Dewan Penasehat berdasarkan situasi klan. Dan Dewan Penasehat harus bersuara bulat untuk menyatakan keadaan darurat tersebut, tidak boleh melalui voting. Apakah undang-undang darurat tahun 2810 bisa kita gunakan?”, tanya penasehat etnis Minang seolah-olah bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil mengernyitkan alisnya.


“Apakah undang-undang darurat itu pernah dicabut atau dibatalkan?”, tanya Presiden.


Hampir bersamaan penasehat etnis Betawi dan Batak menjawab, “seingat saya belum pernah”.


“Tapi apakah situasi ini, ya seperti sekarang ini dapat dianggap darurat, kita kan sedang menang perang?”, tanya penasehat etnis Minang juga seolah-olah bertanya dengan dirinya sendiri, sambil masih mengernyitkan alisnya, semakin dalam.


Goa datar hening.

Masih hening.

Nampaknya goa datar hari ini menciptakan jeda hening yang panjang dari biasanya.


Masih hening sampai ketika penasehat etnis Betawi menunjuk jarinya seolah-olah ingin mengemukakan pendapat dan semua menjawab kompak untuk mempersilahkan beliau berbicara,”Ya silahkan bicara yang mulia penasehat…”.


Sambil tersenyum, penasehat etnis Betawi berujar pelan, “maaf saya hanya ingin ijin kencing sebentar..”.


Semua melongo untuk kemudian tertawa sumringah oleh kelakuan penasehat yang terkenal suka membanyol ini.

Kemudian goa datar hening kembali. Hening sampai saat terdengar langkah mendekat penasehat etnis Betawi sehabis buang air kecil.


Sambil melangkah penasehat ini berujar, “Kalau Militant tidak disertakan, akan memancing gelombang kekecewaan di warga klan. Apalagi semua staff ahli kompur mengundurkan diri. Ini bagi saya terdengar seperti situasi darurat. Bagi saya sederhana, daruratlah kondisi sekarang ini”, penasehat etnis Betawi sudah duduk bersila kembali menempatkan dirinya ke posisi semula.


Penasehat etnis Batak menoleh kearah kiri kearah koleganya penasehat etnis Betawi seolah-olah mengagumi kesederhanaan berpikirnya yang justru menyelesaikan perkara. “Ya, benar, saya kira undang-undang dan semua aturan kan demi warga klan keseluruhan. Kita sadar bahwa jika Militant tidak diperbolehkan menjadi kandidat, staf ahli kompur minggat semua, wah..ini menyakitkan hati seluruh warga. Dan kita akan menuai gelombang protes yang tidak berkesudahan. Jika seluruh warga tidak senang, apalah artinya undang-undang ini semua”, imbuh penasehat etnis Batak.


“Menurut saya pun demikian. Mari kita gunakan undang-undang darurat itu. Bahkan warga klan tidak akan pernah menanyakan alasan kenapa Militant dapat ikut menjadi kandidat. Sebaliknya, kita akan dihujat oleh seluruh warga jika Militant tidak ikut dalam kompetisi Kompur. Prestasi bocah itu sangat gemilang!”, imbuh Presiden.


“Nah, kalau begitu, itu jugalah nasehat kami kepada anda Presiden”, ujar penasehat etnis Minor dengan bersemangat, “Bukan begitu yang mulia para penasehat?”, tanyanya lagi sambil mengedip-ngedipkan matanya kearah semua kolega penasehat. Mereka semua mengangguk-angguk setuju.


Hening kembali. Semua menunggu tindakan yang akan diambil sang Presiden.


“Baiklah, kita sudah sepakat. Biarlah saya tiup asap hijau untuk memanggil mereka semua agar hadir kembali kesini”, tukas Presiden sambil melangkah kesuatu corong dan membakar ujungnya, membiarkan api pada ujung corong mati dengan sendiri, kemudian mengambil pipa yang diikatkan dekat dengan corong, menempelkan salah satu ujung pipa ke corong dan meniup ujung pipa yang lain dengan hembusan yang kuat. Ini adalah corong hijau yang dapat menghasilkan asap hijau diujung luar goa, menandakan panggilan masuk berkumpul kedalam goa. Klan Kumpulan menggunakan tanda-tanda asap berwarna untuk isyarat kepada warganya.


Hampir bersamaan dengan itu terdengar, “Hussshhhaaa…,” yel-yel para petinggi mengiringi tiupan asap hijau sang Presiden.


Semua telah berkumpul kembali dan sidang siap untuk dimulai.


“Baiklah, terima kasih untuk hadir kembali. Kita akan mulai untuk sidang. Tapi ingat, saya tidak toleransi terhadap peserta sidang yang tidak kenal aturan,” sambil melirik kearah Bandot.


Bandot yang dilirik Presiden menjadi salah tingkah untuk kemudian melirik kearah Militant dan Presiden dengan bergantian, seolah-olah ingin memberitahu bahwa yang mengacaukan sidang tadi adalah Militant bukan Bandot.


Presiden tanpa ekspresi meneruskan, “Permintaan Militant untuk ikut dalam kompetisi Kompur kami ijinkan, menimbang…”


Seketika goa datar riuh rendah dengan tepukan tangan dan sorak-sorai peserta sidang, sampai akhirnya Presiden meneruskan kata-katanya dengan berteriak dan melotot kepada hampir semua peserta sidang, menandakan kata-katanya belum selesai dan meminta sidang untuk tertib kembali, “MENIMBANGGGG….…menimbang undang-undang darurat No.1 tahun 2810, yang memperkenankan kandidat Kompur berusia dibawah 25 tahun. Namun mengingat penasehat etnis Batak telah mengumumkan keempat kandidatnya dan ini merupakan kewenangan dari beliau untuk memutuskan, maka kami mempersilahkan penasehat etnis Batak untuk mengambil keputusan”.


“Baiklah, karena keempat kandidat dari etnis Batak sudah saya umumkan dan semua kandidat sudah diundang untuk hadir, dan sebelum saya mengambil langkah yang merupakan kewenangan saya, maka saya mengharapkan kerendahan hati salah satu dari para kandidat untuk mengacungkan jari sebagai tanda mundur dari kandidat, sehingga tempatnya dapat diberikan kepada Militant”, kata penasehat etnis Batak.


Tidak lama kemudian, hampir secara serentak terlihat empat jari telah mengacung keatas, pertanda semua kandidat dari etnis Batak secara sukarela siap mundur untuk memberikan tempatnya kepada Militant.


“Luar biasa, baiklah. Kalau tidak ada yang mengacung, sedikit ada masalah karena terpaksa saya harus memilih dan menggunakan hak saya untuk itu…hmmmm…semua mengacung rupanya masalah juga, karena saya terpaksa harus menggunakan juga hak pilih saya”, ujar penasehat etnis Batak, tersenyum, sambil menggaruk-garuk kepala yang disambut tawa semua peserta sidang.


“Oleh karena itu, dengan segala kewenangan yang ada pada saya, maka saya akan memperbaharui susunan kandidat dari etnis Batak sehingga menjadi : Pandapotan Menteri Keuangan, Korsi Asisten Ahli Menteri Dalam Negeri, Parada Kepala Persenjataan Klan dan Militant jabatan staff ahli kompur”, tutup penasehat tadi.


Begitu selesai pengumuman tadi, semua peserta rapat bertepuk tangan, tidak terkecuali Presiden dan para petinggi lain.


Bandot merangkul Militant dan berujar, “nah sekarang, kerahkan segala kemampuanmu untuk mengalahkan Bandot si Pemberani, agar kau dapat menjadi Kompur saudaraku, jabatan Kompur tidak akan mudah kuberikan padamu”. Tak kuasa Bandot menahan haru sehingga membuat matanya berkaca-kaca.


Militant menukas, ”siapkan seluruh nyalimu sobat, karena Militant akan memimpin prajurit tempur, dan akan kita akan sering berperang untuk menghancurkan klan Wanda selama-lamanya”.


Mereka berdua terbahak-bahak sambil menahan laju air mata agar tidak jatuh menetes. Sementara itu para petinggi berdatangan ke arah Militant guna memberi selamat yang diikuti oleh peserta sidang yang lain.


Entah kenapa semua berangkulan satu sama lain tanpa terkecuali setelah didahului oleh bersalaman dan yel-yel husha. Kebahagian ini mirip seseorang yang paling dicintai, telah diangkat menjadi Presiden klan. Hal ini belum pernah terjadi hanya untuk seorang kandidat kompur.